Berita Terbaru :
|

Bagikan Berita
GAP Tingkatkan Produksi Tembakau

Produksi tembakau Indonesia masih terbilang rendah yakni hanya 160-180 ribu ton pertahunnya, sedangkan kebutuhan mencapai 200-240 ribu ton pertahun. Penerapan Good Agronomic Practice (GAP) dalam pertanian tembakau diharapkan bisa tingkatkan produksi tembakau di Indonesia.

Wakil Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo mengatakan, penerapan GAP tidak hanya untuk meningkatkan produksi tembakau, tapi juga untuk meningkatkan mutu dan kualitas tembakau.

“Saat ini, program tersebut masih dilakukan uji coba melalui pembukaan lahan demplot di beberapa daerah seperti di Rembang, Sumenep, Pamekasan, Jombang dan Sumedang. Target peningkatan produksi melalui demplot bisa mencapai 200%,” jelas Budidoyo kepada wartawan usai pembukaan lahan demplot di Desa Tomo, Sumedang Jawa Barat.

Selama ini, kata dia, untuk memenuhi permintaan tembakau yang tinggi, Indonesia masih mengandalkan impor tembakau dari sejumlah negara seperti Turki, Madagaskar dan Cina. “Jika demplot ini berhasil dan dilaksanakan disentra-sentra produksi tembakau, kita yakin tidak ada lagi impor dari luar,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua DPD Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat Suryana menjelaskan demplot ini juga sebagai pembekalan bagi petani tembakau dalam meningkatkan produktifitas tembakau dengan kandungan residu kimia yang rendah. Hal ini penting karena Sumedang merupakan salah satu dari lima daerah utama penghasil tembakau selain Demak, Temanggung, Malang, dan Pamekasan.

Lebih lanjut Suryana mengatakan, tembakau bagi sekitar 30 juta masyarakat di Jawa merupakan komoditas yang menjadi sumber penghasilan utama. Karena itu, Suryana meminta kebijakan perkebunan khusus dibidang komoditas tembakau tidak menjadikan petani sebagai objek dari keuntungan segelintir orang yang memanfaatkan komoditas tembakau, tapi harus berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau itu sendiri.

“Secara umum kebijakan belum bagus, padahal tembakau merupakan sumber pendapatan pokok desa, oleh karena itu jangan jadikan kita hanya sebagai objek kebijakan,” tandasnya.

Di Sumedang, misalnya, dari total PAD pada 2010 sebesar Rp54 miliar, sebesar Rp4,1 miliar berasal dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Selain itu, sektor pertanian termasuk didalamnya tembakau menyumbang Rp1,54 triliun dari total PDRB Sumedang Rp5,36 triliun pada 2009.


Baca Juga :


Posted by Anonim on 05.55. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response
comments powered by Disqus

Komentar Baru

Update Terbaru