Desa Pekraman Bedha Gelar Ngaben Tikus
Ratusan masyarakat desa pekraman Bedha mengikuti prosesi mreteka
merana atau yang lebih dikenal dengan ngaben tikus, pada selasa/19/10.
Prosesi ngaben yang dilaksanakan dari pukul 07.00 s/d 15.00 wita,
berlangsung khidmat. Perjalanan yang dimulai dari pura puseh Bedha
hingga prosesi pembakaran di pantai Yeh Gangga dengan jarak kurang lebih
6 km tidak menyurutkan niatan masyarakat petani dalam wilayah desa
Bedha untuk melaksanakan prosesi ini. Upcara ini juga dihadiri oleh
anglurah Tabanan serta dipuput oleh pedanda Griya Babahan Belayu.
Hanya satu tujuan dari upacara mreteka merana ini adalah untuk
menyucikan roh atau atma, hama penyakit supaya kembali ke asalnya,
sehingga tidak kembali lagi menjelma ke bumi sebagai penyakit dan
merusak segala jenis tanaman yang ada, khususnya tanaman padi. Hal itu
diungkapkan oleh penyarikan Desa Pekraman Bedha, I Gusti Nyoman Wiratha
yang ditemui disela-sela prosesi ngaben upacara mreteka merana yang dipusatkan di pantai yehgangga menjelaskan, Pelaksanaan upacara ini sesuai dengan isi lontar sri purana dan lontar dharmapemacula yakni kapreteka sama luirnya mretekaning wong mati bener
yang artinya diupacarai seperti mengupacarai orang mati.
Selama ini katanya, upacara mreteka merana ini dikonotasikan dengan uparcara pitra yadnya (ngaben tikus ) Namun hal itu perlu diluruskan, karena menurutnya upacara mreteka merana ini merupakan upacara butha yadnya (mengupacarai sarwa prani). Dijelaskanya pula dalam petunjuk lontar sri purana dan dharma pemaculan disebutkan preteka ring bale agung, geseng ring tepining samudra. Artinya prosesi upacara dilangsungkan di Bale Agung dan dibakar di tepi laut. “Kami melangsungkan prosesi upacara ini di penataran Bale Agung Pura Luhur Bedha dan pembakarannya digelar di Pantai Yeh Gangga,” jelasnya. Dikatakanya, upacara mereteka merana ini dilaksanakan apabila hama tikus dan hama lainya sudah tidak bisa dikendalikan. “Upacara mreteka merana ini yang keenam kalinya kami gelar di Des Pekraman Bedha ,” jelasnya seraya mengatakan upacara serupa terakhir digelar tahun 2000 silam oleh Desa Pekraman Bedha. Usai digelar sejak tahun 2000 silam lalu, tidak ada lagi hama yang mengganas. Dan baru tahun 2008 hama kembali menyerang tanaman padi petani. “Upacara ini sudah ada sejak tahun 1965 silam,” pungkasnya.
Dijelaskannya lebih lanjut, prosesi upacara mreteka merana diawali dengan ngaturan pakeling yakni upacara ngaturan pakeling atau permakluman kepada Tuhan karena akan menggelar upacara mreteka merana ini. “perosesi ini telah digelar hari Senin, 9 Agustus 2010 lalu disejumlah Pura yakni Pura Ulun Suwi, Kayangan Tiga, Pura Luhur Pakendungan dan Pura Batu Ngaus,” bebernya. Upacara mecaru dilangsungkan hari Rabu lalu (11 Agustus lalu) yang digelar di penghulu sawah karma subak masing-masing.
Sedangkan tanggal 13 Agustus lalu digelar upacara nangkap tikus untuk dicari kulitnya untuk sarana upakara. “tikus yang ditangkap dari sawah di wilayah Desa Pekaraman Bedha,”tambahnya. Tanggal 12 Oktober 2010 membuat tempat upacara dan sarananya, dan tanggal 16 Oktober dilangsungkan nunas tirta di sejumlah Pura yang berkaitan dengan subak.
Upacara ngringkes dengan proses mengupacarai kulit-kulit tikus untuk dijadikan perwujudan badan wadag (awak-awakan sekah) digelar Senin 18 Oktober. Puncak upacara dilangsungkan, Selasa (19/10) dengan mengusung wadah yang berisi sekah tikus ke Pantai Yeh Gangga untuk dibakar.
Setelah upacara pembakaran di Pantai Yeh Gangga, abunya dimasukan ke kelapa muda (puspa asti) kemudian diupacarai. Prosesi selanjutnya abu yang telah dimasukan kedalam kelapa muda (nyuh gading) dalam wujud puspa lingga. “Setelah diupacarai kemudian dilarung ke tengah lautan. “Kami berharap setelah upacara ini digelar, roh merana sudah terbebas dan kembali ke asalnya serta tidak lagi mengganggu tanaman padi petani ,”pungkasnya.
Pada tempat yang sama, Bendesa Pekraman Bedha juga menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah murni dari para petani, warga subak dalam wilayah desa adat bedha. Dia berharap, semoga dengan diadakannya kegiatan ini, serangan hama akan berkurang, sehingga mampu memberikan kesejahteraan kepada para petani.
Selama ini katanya, upacara mreteka merana ini dikonotasikan dengan uparcara pitra yadnya (ngaben tikus ) Namun hal itu perlu diluruskan, karena menurutnya upacara mreteka merana ini merupakan upacara butha yadnya (mengupacarai sarwa prani). Dijelaskanya pula dalam petunjuk lontar sri purana dan dharma pemaculan disebutkan preteka ring bale agung, geseng ring tepining samudra. Artinya prosesi upacara dilangsungkan di Bale Agung dan dibakar di tepi laut. “Kami melangsungkan prosesi upacara ini di penataran Bale Agung Pura Luhur Bedha dan pembakarannya digelar di Pantai Yeh Gangga,” jelasnya. Dikatakanya, upacara mereteka merana ini dilaksanakan apabila hama tikus dan hama lainya sudah tidak bisa dikendalikan. “Upacara mreteka merana ini yang keenam kalinya kami gelar di Des Pekraman Bedha ,” jelasnya seraya mengatakan upacara serupa terakhir digelar tahun 2000 silam oleh Desa Pekraman Bedha. Usai digelar sejak tahun 2000 silam lalu, tidak ada lagi hama yang mengganas. Dan baru tahun 2008 hama kembali menyerang tanaman padi petani. “Upacara ini sudah ada sejak tahun 1965 silam,” pungkasnya.
Dijelaskannya lebih lanjut, prosesi upacara mreteka merana diawali dengan ngaturan pakeling yakni upacara ngaturan pakeling atau permakluman kepada Tuhan karena akan menggelar upacara mreteka merana ini. “perosesi ini telah digelar hari Senin, 9 Agustus 2010 lalu disejumlah Pura yakni Pura Ulun Suwi, Kayangan Tiga, Pura Luhur Pakendungan dan Pura Batu Ngaus,” bebernya. Upacara mecaru dilangsungkan hari Rabu lalu (11 Agustus lalu) yang digelar di penghulu sawah karma subak masing-masing.
Sedangkan tanggal 13 Agustus lalu digelar upacara nangkap tikus untuk dicari kulitnya untuk sarana upakara. “tikus yang ditangkap dari sawah di wilayah Desa Pekaraman Bedha,”tambahnya. Tanggal 12 Oktober 2010 membuat tempat upacara dan sarananya, dan tanggal 16 Oktober dilangsungkan nunas tirta di sejumlah Pura yang berkaitan dengan subak.
Upacara ngringkes dengan proses mengupacarai kulit-kulit tikus untuk dijadikan perwujudan badan wadag (awak-awakan sekah) digelar Senin 18 Oktober. Puncak upacara dilangsungkan, Selasa (19/10) dengan mengusung wadah yang berisi sekah tikus ke Pantai Yeh Gangga untuk dibakar.
Setelah upacara pembakaran di Pantai Yeh Gangga, abunya dimasukan ke kelapa muda (puspa asti) kemudian diupacarai. Prosesi selanjutnya abu yang telah dimasukan kedalam kelapa muda (nyuh gading) dalam wujud puspa lingga. “Setelah diupacarai kemudian dilarung ke tengah lautan. “Kami berharap setelah upacara ini digelar, roh merana sudah terbebas dan kembali ke asalnya serta tidak lagi mengganggu tanaman padi petani ,”pungkasnya.
Pada tempat yang sama, Bendesa Pekraman Bedha juga menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah murni dari para petani, warga subak dalam wilayah desa adat bedha. Dia berharap, semoga dengan diadakannya kegiatan ini, serangan hama akan berkurang, sehingga mampu memberikan kesejahteraan kepada para petani.


